Ciri Peraih Kesuksesan: Apakah Anda Salah Satunya?

2 years ago / 840 Views

Fakta kehidupan yang terus berubah menjadi lebih baik dalam mengkondisikan setiap orang untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Dunia yang makin mapan dan sempurna akan semakin menuntut segala yang terbaik, produk yang terbaik, pelayanan yang terbaik, termasuk orang-orang yang berkinerja terbaik.

Akan datang waktunya “dunia kerja” tidak akan lagi bisa bertahan dengan memperkerjakan orang-orang yang kinerjanya biasa-biasa saja. Persaingan yang makin ketat, konsumen yang makin demanding, standar kualitas yang terus meningkat akan menuntut ketersediaan orang-orang berkualitas, yang berkinerja terbaik. Persaingan untuk menjadi yang terbaik mengakibatkan makin banyaknya jumlah orang-orang unggul dan berkualitas.

Gejala ini sudah terlihat sejak di tahap pendidikan. Nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) para pelajar terus meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan rata-rata peserta didik. Sebuah media online (www.isi-good.com), menyajikan data tentang lulusan perguruan tinggi. Sebagai contoh di Universitas Gajah Mada pada peiode wisuda tanggal 19 Mei 2015 yang lalu, mewisuda 1.750 orang lulusan (program sarjana dan diploma). Sepertiga di antara mereka yang diwisuda, berhasil meraih predikat cum-laude. Ini berarti, 1 dari 3 lulusan UGM meraih IPK di atas 3,5. Sepertiga bukanlah jumlah yang sedikit. Fenomena ini sangat mungkin terjadi juga di perguruan tinggi lainnya. Bahkan, bisa jadi rata-rata IPK di perguruan tinggi lain justru lebih tinggi.

Fakta ini menunjukkan kecederungan semakin banyaknya bermunculan orang-orang hebat dan mereka menciptakan standar kualitas SDM yang makin tinggi. Di atas “good” masih ada “very good”, di atasnya lagi masih ada “excellence”. Semakin banyaknya orang-orang “excellence” bermunculan, maka akan membuat orang-orang “good” dan “very good” menjadi orang biasa dan orang “average” akan semakin terpinggirkan.

Puncak persaingan

(sumber: stocksy.com)

Profil demografi Indonesia menunjukkan kecenderungan semakin membesarnya jumlah penduduk usia angkatan kerja dan usia produktif (rentang usia 15-64 tahun). Para peneliti demografi meramalkan pada tahun 2020-2030 Indonesia akan semakin dibanjiri penduduk usia produktif dan usia kerja, yang jumlahnya akan mencapai 70%. Di satu sisi, kondisi ini disebut sebagai “Bonus Demografi” yang bisa menempatkan Indonesia sebagai negara ekonomi no. 7 atau bahkan no. 5 terkuat di dunia. Tapi di sisi yang lain, situasi ini bisa menjadi “Bencana Demografi” karena ketatnya persaingan para pencari kerja dan tuntutan kualitas SDM yang tentunya semakin tinggi. Hanya mereka yang memiliki IPK tinggi dari perguruan tinggi unggul, serta memiliki kompetensi dan skill yang terbaik, yang akan bisa diterima kerja.

Situasi ini membuat banyak perusahaan juga dipaksa bersikap realistis terhadap para pelamar pekerjaan. Di acara Job Fair saat ini seringkali perusahaan sudah melakukan seleksi ketat untuk menyaring jumlah pelamar yang banyak. Perusahaan memasang persyaratan yang semakin ketat, pelamar pekerjaan harus berasal dari kampus atau perguruan tinggi tertentu. IPK harus di atas 3,0, dan sederet persyaratan kompetensi yang semakin sulit dipenuhi oleh orang-orang biasa. Besar kemungkinannya, bagi yang bukan berasal dari kampus tersebut, berkas lamarannya tidak diproses sama sekali.

Untuk mendapatkan orang-orang terbaik, pihak manajemen perusahaan juga semakin intens untuk masuk ke kampus-kampus tertentu, dan menawarkan beasiswa ikatan kerja kepada para mahasiswa semester akhir yang terbaik. Semakin kecil kemungkinan orang biasa mendapat peluang kerja di perusahaan terbaik.

Pada akhirnya, menjadi yang terbaik bukan lagi pilihan, tapi keharusan untuk setiap orang yang ingin tetap bertahan di situasi terbaik. Di masa depan, untuk menjadi orang berkinerja terbaik (excellence), kita tidak bisa hanya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Untuk menjadi orang terbaik, kita perlu menjadi terbaik sesuai standar terbaik yang terbentuk saat itu.

Significant other

(sumber: pexels.com)

Kita yang hidup di generasi saat ini dan yang sudah bekerja di suatu perusahaan, mungkin sudah merasa aman dan nyaman. Namun, jika kita mengerti tentang dampak “significant others”, kita akan mulai berpikir tentang pentingnya untuk menjadi lebih baik terus menerus.

Menurut tokoh psikolog dan sosiolog dari University of Chicago, George Herbert Mead, kita semua berpotensi memberi pengaruh sebagai orang penting (significant other) yang dapat membentuk konsep diri seseorang melalui interaksi dengan orang-orang terdekat kita.

Melalui pemahaman tentang significant other ini, kita semua sesungguhnya sedang “menularkan” sesuatu ke sekeliling kita. Jika kita menajdi orang yang berkinerja baik, maka kita menularkan pengaruh baik itu ke sekeliling kita.

Sebaliknya, jika kita orang yang berkinerja buruk, maka kita menularkan pengaruh buruk itu ke sekeliling kita. Sekeliling kita bukan hanya rekan kerja, tapi juga termasuk orang-orang terdekat yang sangat kita sayangi, anggota keluarga kita, pasangan hidup, dan anak-anak kita. Jika kita terus mengusahakan diri kita untuk menjadi yang terbaik, hal itu bukan hanya membentuk diri kita, tapi juga membentuk orang-orang di sekeliling kita dan generasi kita selanjutnya.

Be the best you can be!

(sumber: pexels.com)

Max De Pree, seorang pengusaha yang sukses mengembangkan produk mebel kantor bermerek Herman Miller, yang juga terkenal sebagai pakar leadership, mengatakan, “kita tidak bisa menjadi pribadi yang kita inginkan dengan tetap menjadi diri kita saat ini”. Pernyataan De Pree tersebut menunjukkan bahwa ungkapan “Be Yourself” atau “jadilah dirimu sendiri, apa adanya” sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Di era persaingan super ketat saat ini setiap orang harus memperjuangkan dirinya untuk menjadi yang terbaik, “Be the best you can be!”. Ungkapan tersebut akan lebih relevan sepanjang masa karena terus menerus berusaha untuk menjadi yang terbaik!

Siapakah orang-orang yang paling bersemangat, bergairan dan berbahagia menjalani kehidupannya? Mereka adalah para achiever / peraih kesuksesan! Mereka adalah orang-orang yang pantang menyerah sampai mencapai tujuannya. Mereka adalah orang-orang yang terus mencari tahu cara untuk meraih impiannya!

Sebenarnya apa sih yang dipikirkan oleh para peraih kesuksesan?

Carl Beuke, Ph.D, psikolog yang meneliti tentang para achiever, menemukan ciri-ciri yang sama, yang dimiliki oleh para peraih kesuksesan. Semua peraih kesuksesan ternyata memiliki 6 cara berpikir yang menjadi dasar kuat bagi semua tindakan dan perilakunya sebagai achiever. Mempraktekkan cara berpikir para achiever akan membuat kita semakin mengerti mengapa para achiever selalu berhasil mencapai tujuannya. Cara berpikir tersebut membuat mereka selalu bisa mengatasi segala penghalang. Berikut ini pola pikir (mindset) para peraih kesuksesan menurut penelitian Carl Beuke:

  • Sukses adalah tanggung jawab pribadi:

Keberhasilan ditentukan oleh inisiatif diri sendiri, dan usaha, ketekunan serta sikap pantang menyerah untuk mencapai keberhasilan, tidak ditentukan oleh situasi, peluang dan berbagai sarana yang mendukung.  

  •  Semuanya adalah peluang:

Para achiever melihat segala sesuatu sebagai “tantangan” atau “kesempatan” untuk mencapai tujuannya. Masalahnya, kesulitan dan kegagalan adalah sarana berpikir kreatif untuk menemukan cara terbaik mencapai keberhasilan terbaik.

  • Berjuang mencapai tujuan adalah usaha yang menyenangkan:

Para iachiever melakukan pekerjaannya dengan penuh gairah, semangat, fokus, konsentrasi penuh sampai mencapai tujuannya. Berbagai lika-liku usaha mencapai tujuan adalah proses yang menantang dan menyenangkan. Bahkan semakin sulit, semakin menantang. Mungkin bagi mereka, hal itu seolah sedang bermain game yang seru untuk mengumpulkan score tertinggi.

  • Mencapai tujuan adalah hal yang berharga untuk diperjuangkan:

Kerja keras dan berjuang maksimal sampai mencapai tujuan adalah nilai-nilai yang dijunjung tinggi dan prinsip hidup yang terus dipraktekkan oleh para achiever, sampai mencapai hasil. Seluruh karakter dan sikap mental yang diperlukan untuk mencapai sukses, merupakan nilai-nilai berharga yang memandu mereka menuju keberhasilan.

  • Semua bisa diperbaiki dan disempurnakan:

Tidak ada yang tidak bisa. Semua bisa diperbaiki, disempurnakan untuk menjadi yang terbaik. Jika tidak tahu, akan mencari tahu. Jika tidak bisa akan cari cara sampai bisa. Jika kurang pengalaman akan menambah pengalaman, mengikuti program pelatihan, mentoring, coaching, dll.

  • Tekun sampai akhir:

Para achiever yakin bahwa ketekunan akan sanggup mengatasi segala rintangan dan akan mencapai hasil. Pemenang bukanlah orang yang tak pernah gagal, tapi orang yang tak pernah berhenti berusaha sampai mencapai hasil.

Latest News