3 Hal yang Harus Dihindari Dalam Meraih Kesuksesan

2 years ago / 3425 Views

Ijasah, skill, dan pengalaman.

Masih banyak dari kita yang berpikiran bahwa 3 hal di atas adalah modal dan kunci utama dalam meraih kesuksesan.

Tapi nyatanya, Anda salah besar. Mental yang kuat adalah aset yang hebat. Tanpanya, Anda tidak mungkin dapat meraih kesuksesan atau pun pekerjaan yang Anda impikan.

Suatu fakta yang tidak nyaman namun dapat menguatkan pada masa dua puluhan: Ada “biaya kesempatan” untuk segala hal yang berharga dalam hidup ini. Apapun yang ingin Anda capai, Anda harus siap merelakan sesuatu untuk mewujudkannya.

Menurut pengalaman seorang penulis sekaligus pembicara bernama Srinivas Rao, untuk mencapai pekerjaan yang ia impikan, dia harus merelakan / mengorbankan banyak hal selama perjalanannya menuju puncak tersebut. Adapun tiga hal besar tersebut adalah:

Definisi sukses menurut orang lain

(sumber: pexels.com)

Di masa kuliah kita pasti banyak menemukan dan mendengar apa itu definisi dari kata sukses yang telah disepakati oleh banyak orang atau bisa disebut sebagai standar kesuksesan. Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit, hal itu tersirat melalui percakapan, perilaku, dan keputusan seseorang.

Apakah sekarang Anda sudah merasa sukses menurut definisi sukses Anda sendiri? Mungkin Anda bukanlah seorang profesor hebat lulusan kampus ternama seperti Harvard dan sebagainya, dan mungkin saldo bank Anda hampir menyentuh nilai nol setelah lulus dari universitas, tetapi Anda harus ketahui dan menyadari bahwa dasar dari segalanya mulai dari nol.

Pada titik tertentu, Anda akan menyadari bahwa Anda harus mengabaikan definisi keberhasilan menurut orang lain. Meskipun ini adalah salah satu hal tersulit yang harus Anda lupakan karena hal ini sangat tertanam dalam narasi budaya kita. Namun pada akhirnya jika Anda berhasil mengabaikan definisi sukses menurut orang lain, hal ini akan mengarah pada ekspresi sepenuhnya tentang siapa diri Anda dan apa yang lebih penting bagi Anda.

Orang lain tidak akan hidup dengan konsekuensi dari pilihan yang telah Anda buat. Jadi mengapa Anda harus menjalani hidup sesuai dengan nilai dan apa kata mereka?

Takut “dijudge” / dinilai oleh orang lain

(sumber: pexels.com)

Bayangkan jika pekerjaan Anda adalah bukan pekerjaan hebat seperti dokter, insinyur, direktur, profesor, atau bukan segala sesuatu yang menurut orang lain itu hebat. Anggap pekerjaan Anda adalah seorang blogger atau youtuber. Ketika Anda mengobrol dan bertemu dengan keluarga atau kerabat jauh yang jarang ketemu, mereka pasti akan menanyakan pekerjaan Anda dan bertanya “Jadi, masih ngeblog?”

Rasa takut dijudge membuat begitu banyak dari kita melepaskan diri dari mimpi kita sendiri yang ambisius.

Pada titik tertentu, Anda akan mulai menyadari bahwa itu bukan tugas Anda untuk meyakinkan orang bahwa apa yang sedang Anda kerjakan itu penting, bermakna dan berharga. Anda harus merelakan apa kata orang dan ‘cap’ oleh orang lain tentang diri Anda.

Begitu Anda bisa melepaskan rasa takut akan dinilai orang lain, kemampuan Anda untuk bekerja akan berubah cukup drastis. Anda menjadi lebih giat, produktif dan kreatif. Fokuslah pada prosesnya, bukan hasilnya, dan Anda akan mulai melihat kemajuan menuju kehidupan yang Anda inginkan.

Unek-unek / ungkapan terpendam di masa lalu

(sumber: stocksy.com)

Kita semua memiliki masa lalu. Entah penuh dengan pengalaman indah, atau juga dipenuhi dengan hal-hal mengerikan seperti bos yang galak atau mantan kekasih yang menyakitkan hati.

Pada titik tertentu, Anda harus melepaskan kebencian apa pun yang Anda miliki terhadap orang lain, situasi, ataupun pengalaman dari masa lalu Anda. Jika tidak, masa depan Anda akan sama buruknya dengan masa lalu Anda.

Bila Anda merelakan dan mengikhlaskan semua itu, segala beban dalam hati Anda akan terasa jauh lebih ringan. Hidup Anda akan dipenuhi dengan rasa ringan, damai, dan bebas menuju jalan yang Anda tuju karena pada akhirnya, Anda tidak akan melakukan apa yang Anda lakukan sekarang jika Anda tidak melepaskan rasa benci itu.

Mengalah, merelakan, ataupun memaafkan bukan hanya tentang pengorbanan. Ini juga tentang keuntungan. Bila Anda merelakan dan mengikhlaskan segalanya, Anda telah membuka hidup Anda untuk hal-hal lainnya.

Pada akhirnya, Anda sendiri yang menentukan makna dan definisi dari kesuksesan dan apa yang harus Anda relakan - dan Anda akan menemukan apakah hasilnya akan layak atau tidak.

Latest News